21 April 2013
Hadits palsu atau hadits maudhu’
adalah perkataan dusta yang dibuat dan direkayasa oleh seseorang kemudian
dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits palsu
adalah seburuk-buruknya hadits dhaif, bahkan sebagian ulama menganggapnya jenis
tersendiri di luar hadits dhaif.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengancam pembuat hadits palsu dengan ancaman yang sangat berat. Dalam
sebuah hadits mutawatir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
Artinya: “Siapa saja yang berdusta
atas namaku secara sengaja, maka bersiaplah menempati tempat duduknya di
neraka.”
Walaupun ada ancaman tegas dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap saja banyak yang berani
membuat-buat hadits palsu. Ada yang melakukannya karena kebodohan, keinginan
mendapatkan dunia, dan ada juga yang memang sengaja ingin menghancurkan Islam.
Berikut rincian motivasi para pembuat hadits palsu ketika memalsukan hadits:
1. Mendekatkan diri kepada Allah
ta’ala
Kelompok ini membuat hadits-hadits
yang memotivasi umat Islam untuk melakukan berbagai amal kebaikan, dan
hadits-hadits yang membuat orang-orang takut untuk melakukan perbuatan munkar.
Kelompok ini dikenal berasal dari kalangan orang-orang zuhud dan penganjur
perbuatan baik. Dan kelompok ini adalah seburuk-buruk pembuat hadits palsu,
karena manusia menerima hadits-hadits yang mereka buat, disebabkan kepercayaan
manusia kepada mereka.
Contoh pembuat hadits
palsu dari kalangan ini adalah Maisarah ibn ‘Abdi Rabbihi. Ibnu Hibban dalam adh-Dhu’afaa
meriwayatkan dari Ibnu Mahdi, bahwa beliau berkata: Aku bertanya kepada
Maisarah ibn ‘Abdi Rabbihi, ‘Dari mana Anda mendatangkan hadits-hadits ini,
siapa yang membaca ini, maka ia akan mendapatkan ini’, ia kemudian menjawab,
‘Saya membuatnya untuk memotivasi manusia’.
2. Memenangkan madzhab yang dianut
Salah satu permasalahan besar umat
Islam sejak dulu adalah fanatisme madzhab dan kelompok. Sebagian mereka bahkan
berani memalsukan hadits demi memenangkan madzhab dan kelompok mereka. Yang
melakukan ini terutama adalah kelompok-kelompok politik yang lahir pasca
tersebarnya fitnah di tubuh umat Islam, seperti kelompok Syiah misalnya.
Kelompok ini misalnya membuat satu hadits palsu tentang ‘Ali radhiyallahu
‘anhu, yaitu, ‘Ali adalah sebaik-baik manusia, barangsiapa meragukannya maka ia
telah kafir’.
Ada juga hadits palsu yang dibuat
oleh sebagian pendukung madzhab Abu Hanifah. Mereka membuat hadits yang
bunyinya, ‘Akan ada di tengah-tengah umatku seorang laki-laki yang dipanggil
Abu Hanifah, dia adalah pelita umatku’. Dari kalangan ini juga lahir hadits
palsu yang mencela asy-Syafi’i, yaitu, ‘Dan akan ada di tengah-tengah umatku
seorang laki-laki yang dipanggil Muhammad ibn Idris, fitnahnya atas umatku
lebih berbahaya daripada Iblis’.
3. Merusak ajaran Islam
Kelompok ini membuat hadits palsu
dengan tujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Kalangan zindiq ini tidak
mampu melawan Islam secara terang-terangan, jadi mereka berupaya merusak ajaran
Islam dari dalam dengan membuat sejumlah hadits palsu. Contohnya adalah hadits
yang dibuat oleh Muhammad ibn Sa’id asy-Syami yang berbunyi, ‘Saya adalah penutup para Nabi, tidak ada lagi Nabi setelahku,
kecuali yang Allah kehendaki’.
Umat Islam yang awam, yang mengira
bahwa hadits di atas benar-benar perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bisa jadi akan berpikir bahwa masih mungkin akan datang nabi lagi setelah Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Alhamdulillah, ulama telah
menjelaskan kepada umat Islam hadits-hadits semacam ini, sehingga umat tidak terkena
fitnah yang disebarkan kalangan zindiq ini.
4. Menjilat penguasa
Sebagian orang yang lemah imannya
berusaha mendekati para penguasa dengan membuat hadits palsu, dengan tujuan
mendapat simpati dari penguasa tersebut. Hal ini misalnya dilakukan oleh Ghiyats ibn Ibrahim an-Nakha’i al-Kufi dengan khalifah Bani
‘Abbas, al-Mahdi.
Ketika Ghiyats masuk ke ruangan
al-Mahdi, ia melihat sang khalifah sedang bermain-main dengan burung merpati.
Melihat hal ini, Ghiyats membuat hadits yang disandarkannya kepada Nabi sebagai
berikut, ‘Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang, pacuan hewan, adu
ketangkasan, dan bermain burung’. Ghiyats menambahkan kata janah (sayap)
yang artinya bermain burung, pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
untuk menyenangkan hati al-Mahdi. Al-Mahdi mengetahui hal ini, kemudian ia
memerintahkan untuk menyembelih burung merpati itu, seraya berkata, ‘Aku yang
menanggung beban atas hal itu’.
5. Mencari penghidupan dan rezeki
Hal ini misalnya dilakukan oleh sebagian Qushshash (tukang cerita) yang mencari
penghidupan melalui berbagai cerita kepada masyarakat. Mereka membuat
berbagai cerita yang menyenangkan dan menakjubkan, agar orang-orang mau
mendengarkan mereka, kemudian memberi mereka uang. Ini misalnya dilakukan oleh
Abu Sa’id al-Madaini.
6. Meraih popularitas
Ini dilakukan dengan membuat
hadits-hadits yang asing, yang tidak dijumpai dari seorang pun guru-guru
periwayat hadits. Mereka membolak-balikkan sanad hadits, agar terlihat berbeda
dari sanad yang dikenal oleh para pencari hadits, dengan harapan para pencari
hadits tersebut menemui mereka, dan akhirnya nama mereka dikenal luas. Di
antara orang yang melakukan ini adalah Ibnu Abi Dihyah
dan Hammad an-Nashibi.
***
Referensi
(1) Taysiir Mushthalah al-Hadits
karya Dr. Mahmud ath-Thahhan
(2) al-Maudhuu’aat karya Ibn
al-Jauzi
Ditulis oleh : Abu Furqan al-Banjary
